Analisis Geodinamika dan Evolusi Kompleks Volkanik Purba Gunung Burangrang: Transformasi Material, Mekanika Fluida Tanah, dan Mitigasi Bencana Aliran Rombakan Geodynamic Analysis and Evolution of the Ancient Volcanic Complex of Mount Burangrang: Material Transformation, Soil Fluid Mechanics, and Debris Flow Disaster Mitigation
Tri Febriansah
Corresponding Author
Publication Date
08 February 2026
abstract
Gunung Burangrang mewakili tahap akhir evolusi gunung api strato purba dalam kompleks vulkanik Sunda, yang kini didominasi oleh proses degradasi dan pelapukan. Kajian ini menganalisis interaksi faktor geodinamika purba, transformasi material vulkanik, dan mekanika fluida tanah dalam membentuk kerentanan lereng terhadap bencana gerakan tanah. Pembentukan tubuh Burangrang pasca-runtuhnya Kaldera Sunda Purba (±105.000 – 35.000 tahun lalu) menghasilkan akumulasi material piroklastik dan lava yang kemudian mengalami pelapukan intensif, membentuk lapisan tanah vulkanik tebal yang kaya mineral lempung ekspansif (seperti smektit). Interaksi dengan Sesar Lembang aktif menciptakan zona deformasi dan rekahan yang memperlemah massa batuan. Dinamika hidrologi, termasuk infiltrasi air hujan ekstrem ke dalam tanah Andosol yang poros dan penumpukan tekanan air pori di atas lapisan lempung kedap, menjadi pemicu kritis penurunan kuat geser tanah. Studi kasus longsor besar Pasirlangu (Januari 2026) menunjukkan mekanisme kegagalan lereng yang berubah menjadi aliran debris (debris flow) dengan volume material besar dan kecepatan tinggi, dipicu oleh curah hujan >220 mm/hari yang mengakibatkan kejenuhan tanah pada lereng curam (>35°). Analisis juga mengungkap keterbatasan peran vegetasi dalam menahan longsor dalam (deep-seated) serta dampak fragmentasi hutan terhadap stabilitas lereng jangka panjang. Mitigasi berkelanjutan memerlukan pendekatan terintegrasi: pemetaan mikrozonasi kerawanan berbasis pemodelan stabilitas lereng (seperti TRIGRS), penataan ruang dengan menetapkan kawasan lindung pada lereng curam, relokasi permukiman dari jalur aliran debris, serta penguatan sistem peringatan dini berbasis ambang batas curah hujan dan pemantauan tanda-tanda gerakan tanah. Kajian ini menekankan bahwa mitigasi bencana di kawasan gunung api tua seperti Burangrang harus berbasis pemahaman menyeluruh mengenai evolusi geologi, karakteristik material, dan dinamika hidro-geoteknik yang telah berlangsung ribuan tahun.
Mount Burangrang represents the final stage in the evolution of an ancient stratovolcano within the Sunda volcanic complex, now dominated by degradation and weathering processes. This study analyzes the interaction of ancient geodynamic factors, volcanic material transformation, and soil fluid mechanics in shaping slope vulnerability to landslide hazards. The formation of Burangrang’s body after the collapse of the Ancient Sunda Caldera (±105,000–35,000 years ago) resulted in the accumulation of pyroclastic material and lava, which later underwent intensive weathering, forming thick volcanic soils rich in expansive clay minerals (such as smectite). Interaction with the active Lembang Fault created deformation zones and fractures that weakened the rock mass. Hydrological dynamics, including extreme rainfall infiltration into porous Andosol soils and pore water pressure buildup above impermeable clay layers, became critical triggers for reduced soil shear strength. The large Pasirlangu landslide case (January 2026) demonstrated slope failure mechanisms that transformed into debris flows with massive volume and high velocity, triggered by rainfall exceeding 220 mm/day that saturated steep slopes (>35°). The analysis also revealed the limited role of vegetation in preventing deep-seated landslides and the impact of forest fragmentation on long-term slope stability. Sustainable mitigation requires an integrated approach: microzonation mapping of hazards using slope stability modeling (such as TRIGRS), spatial planning with protected zones on steep slopes, relocation of settlements from debris flow paths, and strengthening of early warning systems based on rainfall thresholds and monitoring of ground movement indicators. This study emphasizes that disaster mitigation in old volcanic regions like Burangrang must be grounded in a comprehensive understanding of geological evolution, material characteristics, and hydro-geotechnical dynamics that have developed over thousands of years.
introduction
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Konfigurasi tektonik yang dinamis ini tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai wilayah dengan aktivitas seismik dan vulkanik yang tinggi, tetapi juga menciptakan bentang alam yang kompleks dan kaya akan sumber daya, sekaligus menyimpan potensi bahaya geologi yang signifikan. Salah satu manifestasi dari proses geodinamika tersebut adalah terbentuknya rangkaian gunung api di sepanjang Pulau Jawa, termasuk di dalamnya Kompleks Vulkanik Sunda di Jawa Barat.
Gunung Burangrang (2.064 mdpl), yang terletak di utara Kota Bandung, merupakan bagian penting dari kompleks vulkanik purba ini. Secara visual, gunung ini menampilkan lanskap yang tenang dan hijau, ditutupi oleh hutan dan perkebunan. Namun, di balik ketenangannya, Burangrang menyimpan rekaman sejarah geologi yang panjang dan rumit. Sebagai produk dari aktivitas vulkanisme Kuarter, tubuhnya dibangun dari akumulasi material piroklastik dan aliran lava, sebelum akhirnya aktivitas magmatik berhenti dan beralih ke gunung api tetangganya, Tangkuban Parahu. Saat ini, Burangrang berada dalam fase "senilis" atau tua, di mana proses eksogen seperti pelapukan, erosi, dan gravitasi mendominasi evolusi geomorfologinya.
Fase degradasi ini justru menciptakan kerentanan baru. Material vulkanik yang telah melapuk selama ribuan tahun berubah menjadi tanah dengan sifat teknis yang khas, seringkali didominasi oleh mineral lempung ekspansif seperti smektit. Struktur internal lereng yang heterogen, berupa lapisan tanah porous di atas batuan dasar atau lapisan lempung yang kedap air, menciptakan kondisi hidrogeologis yang rawan. Ketika air hujan, terutama dalam intensitas ekstrem, berinfiltrasi ke dalam sistem ini, tekanan air pori dapat meningkat drastis dan mengurangi kekuatan geser tanah, sehingga memicu kegagalan massa lereng.
Bahaya ini diperparah oleh interaksi dengan struktur geologi aktif, terutama Sesar Lembang di sebelah timurnya. Keberadaan sesar ini menciptakan zona lemah, rekahan, dan deformasi pada batuan di sekitar Burangrang, yang menjadi jalur preferensial untuk pergerakan air dan bidang potensial untuk longsoran. Bencana tanah longsor dan aliran rombakan (debris flow) yang melanda kawasan kaki Gunung Burangrang, seperti yang terjadi di Pasirlangu pada Januari 2026, adalah bukti nyata dari realisasi potensi bahaya tersebut. Peristiwa ini menimbulkan korban jiwa dan kerusakan material yang besar, sekaligus menjadi peringatan tentang kompleksitas ancaman di kawasan gunung api tua.
Berdasarkan latar belakang tersebut, kajian ini dilakukan dengan tujuan untuk:
Menganalisis evolusi geodinamika dan vulkanostratigrafi Kompleks Vulkanik Purba Gunung Burangrang dalam konteks pembentukan Kompleks Sunda.
Mengkaji proses transformasi material vulkanik pasca-erupsi, khususnya pelapukan dan pembentukan mineral lempung, serta pengaruhnya terhadap sifat mekanika tanah.
Menganalisis mekanisme hidro-geoteknik yang mengontrol kestabilan lereng, termasuk dinamika infiltrasi, tekanan air pori, dan peran struktur geologi (Sesar Lembang).
Merekonstruksi mekanisme dan dinamika bencana gerakan tanah (longsor dan debris flow) berdasarkan studi kasus di kawasan tersebut.
Merumuskan rekomendasi strategi mitigasi dan adaptasi berbasis ilmu kebumian yang terintegrasi untuk mengurangi risiko bencana di kawasan Gunung Burangrang dan wilayah sejenis.
Pendekatan kajian bersifat multidisiplin, mengintegrasikan geologi, geomorfologi, geoteknik, hidrologi, dan ilmu kebencanaan. Dengan memahami siklus lengkap dari "api" (pembentukan), "waktu" (pelapukan), hingga "air" (pemicu), diharapkan dapat dibangun paradigma mitigasi yang proaktif dan adaptif, yang tidak hanya merespons bencana tetapi memahami akar penyebab geologisnya untuk keselamatan masyarakat dan keberlanjutan tata ruang.
Indonesia is an archipelagic country located at the convergence of three major global tectonic plates: the Eurasian, Indo-Australian, and Pacific Plates. This dynamic tectonic configuration not only makes Indonesia a region of high seismic and volcanic activity but also creates a complex landscape rich in resources, while simultaneously harboring significant geological hazards. One manifestation of these geodynamic processes is the formation of volcanic chains along Java Island, including the Sunda Volcanic Complex in West Java.
Mount Burangrang (2,064 m asl), situated north of Bandung, is an important part of this ancient volcanic complex. Visually, the mountain presents a tranquil, green landscape covered by forests and plantations. Yet beneath this calm exterior lies a long and intricate geological history. As a product of Quaternary volcanism, its body was built from pyroclastic deposits and lava flows before magmatic activity ceased and shifted to its neighboring volcano, Tangkuban Parahu. Today, Burangrang is in a “senile” or old stage, where exogenous processes such as weathering, erosion, and gravity dominate its geomorphological evolution.
This degradation phase has created new vulnerabilities. Volcanic materials weathered over thousands of years have transformed into soils with distinctive technical properties, often dominated by expansive clay minerals such as smectite. The heterogeneous internal slope structure—porous soil layers over bedrock or impermeable clay—creates hydrogeological conditions prone to instability. When rainfall, especially of extreme intensity, infiltrates this system, pore water pressure can rise sharply, reducing soil shear strength and triggering slope failures.
The hazard is further exacerbated by interaction with active geological structures, particularly the Lembang Fault to the east. This fault generates weak zones, fractures, and deformation in rocks around Burangrang, serving as preferential pathways for water movement and potential slip surfaces for landslides. Landslides and debris flows affecting the foothills of Mount Burangrang, such as the Pasirlangu disaster in January 2026, are clear evidence of these hazards, causing casualties and significant material damage while highlighting the complexity of threats in old volcanic regions.
Based on this background, the study aims to:
- Analyze the geodynamic evolution and volcanostratigraphy of the Ancient Burangrang Volcanic Complex within the Sunda Complex context.
- Examine post-eruption volcanic material transformation, particularly weathering and clay mineral formation, and their influence on soil mechanics.
- Investigate hydro-geotechnical mechanisms controlling slope stability, including infiltration dynamics, pore water pressure, and the role of geological structures (Lembang Fault).
- Reconstruct landslide and debris flow mechanisms and dynamics based on case studies in the area.
- Formulate integrated geoscience-based mitigation and adaptation strategies to reduce disaster risk in Mount Burangrang and similar regions.
The approach is multidisciplinary, integrating geology, geomorphology, geotechnics, hydrology, and disaster science. By understanding the complete cycle of “fire” (formation), “time” (weathering), and “water” (trigger), a proactive and adaptive mitigation paradigm can be developed—one that not only responds to disasters but also addresses their geological root causes for community safety and sustainable spatial planning.
methodology
Penelitian ini dirancang untuk mengintegrasikan berbagai pendekatan dan teknik guna menjawab tujuan yang telah ditetapkan, dengan fokus pada analisis kondisi eksisting dan rekonstruksi proses di Kompleks Gunung Burangrang. Metodologi yang digunakan bersifat deskriptif, analitik, dan integratif, mengacu pada studi pustaka, analisis data sekunder, serta pemodelan konseptual.
- Pengumpulan Data dan Studi Pustaka Tahap awal penelitian dilakukan melalui studi literatur ekstensif terhadap sumber-sumber ilmiah terkini. Sumber primer yang digunakan meliputi:
Publikasi ilmiah: Jurnal, prosiding, dan laporan teknis dari Badan Geologi, PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), serta lembaga penelitian.
Peta tematik: Peta geologi regional, peta geomorfologi, peta sesar aktif, dan peta kerawanan longsor.
Data historis: Rekaman kejadian bencana gerakan tanah masa lalu di wilayah studi, khususnya peristiwa longsor Pasirlangu 2026.
Data klimatologi: Data curah hujan ekstrem dari BMKG yang menjadi pemicu langsung bencana.
Studi pustaka difokuskan untuk merekonstruksi evolusi geodinamika Kompleks Sunda, kronologi vulkanostratigrafi Burangrang, karakteristik mineralogi tanah vulkanik, dan parameter mekanika tanah.
- Analisis Geodinamika dan Vulkanostratigrafi Pembentukan dan evolusi Gunung Burangrang dianalisis secara kualitatif berdasarkan model konseptual dari literatur.
Analisis Evolusi: Merekonstruksi tahapan pembentukan Burangrang pasca-runtuhnya Kaldera Sunda Purba, berdasarkan urutan kejadian geologi (sekuen vulkanik) dan estimasi umur relatif.
Analisis Interaksi Sesar: Mengkaji pengaruh Sesar Lembang terhadap stabilitas massa batuan di sekitar Burangrang dengan menganalisis pola sebaran rekahan, percabangan sesar, dan hubungannya dengan zona lemah pada lereng.
- Analisis Karakteristik Material dan Tanah Analisis ini dilakukan berdasarkan sintesis data sekunder dari laporan dan publikasi terdahulu.
Transformasi Material: Mengidentifikasi proses pelapukan kimia dan fisika yang mengubah batuan vulkanik primer (andesit, tufa) menjadi tanah, dengan penekanan pada pembentukan mineral lempung sekunder (kaolinit, smektit).
Karakterisasi Tanah: Menganalisis sifat teknis tanah vulkanik (Andosol, Latosol) yang relevan dengan stabilitas lereng, seperti porositas, permeabilitas, kuat geser, dan potensi pengembangan (swelling) akibat kandungan mineral lempung ekspansif. Analisis menggunakan parameter yang dilaporkan dalam studi-studi terdahulu di wilayah serupa.
- Analisis Mekanika Fluida Tanah dan Kestabilan Lereng Pendekatan analitis digunakan untuk memahami mekanisme kegagalan lereng.
Konsep Tekanan Air Pori: Menerapkan prinsip mekanika tanah Terzaghi secara konseptual untuk menjelaskan hubungan antara infiltrasi hujan, peningkatan tekanan air pori ( u u), penurunan tegangan efektif ( σ ′ σ ′ ), dan pengurangan kuat geser tanah ( τ τ).
Model Konseptual Lereng: Membuat model lapisan tanah sederhana (misal: lapisan porous di atas lapisan kedap) untuk menjelaskan mekanisme jenuhnya air dan terbentuknya bidang gelincir.
Analisis Pemicu: Mengkorelasi data curah hujan ekstrem (sebagai trigger) dengan kondisi jenuh tanah dan kemiringan lereng untuk menjelaskan inisiasi longsor.
- Rekonstruksi Bencana dan Dinamika Aliran Rombakan (Debris Flow) Studi kasus bencana Pasirlangu 2026 dianalisis secara retrospektif.
Rekonstruksi Kronologis: Merunut tahapan kejadian berdasarkan laporan teknis, dari inisiasi longsor (mahkota), transformasi menjadi aliran, hingga zona penimbunan.
Analisis Parameter Bencana: Mengumpulkan dan menganalisis data teknis seperti volume material, panjang lintasan, kemiringan lereng asal, dan intensitas hujan pemicu untuk memahami skala dan dinamika bencana.
- Analisis Mitigasi dan Evaluasi Strategi Tahap akhir berupa sintesis untuk merumuskan rekomendasi.
Evaluasi Mitigasi Eksisting: Mengkaji efektivitas vegetasi sebagai mitigasi alami dengan menganalisis mekanisme perakaran (root cohesion) dan batas kedalaman efektifnya terhadap longsor dalam.
Analisis Spasial Konseptual: Mengusulkan pendekatan mikrozonasi berbasis parameter geomorfologi (lereng curam >35°, lembah aliran, dekat sesar) dan geologi tanah (ketebalan lapisan lapuk) untuk identiksi daerah rawan.
Perancangan Sistem Mitigasi Terpadu: Merumuskan rekomendasi strategis yang menggabungkan aspek teknis (sistem peringatan dini berbasis rainfall threshold), tata ruang (penetapan kawasan lindung, relokasi), dan sosial (pelatihan masyarakat).
- Integrasi dan Sintesis Seluruh temuan dari setiap analisis diintegrasikan untuk membangun narasi yang komprehensif tentang hubungan sebab-akibat dari evolusi geologi purba hingga manifestasi bahaya masa kini. Sintesis ini menjadi dasar untuk kesimpulan dan rekomendasi yang berbasis sains dan kontekstual.
This research is designed to integrate various approaches and techniques to address the stated objectives, with a focus on analyzing existing conditions and reconstructing processes in the Burangrang Mountain Complex. The methodology employed is descriptive, analytical, and integrative, drawing on literature review, secondary data analysis, and conceptual modeling.
1. Data Collection and Literature Review
The initial stage involves an extensive review of current scientific sources. Primary references include:
- Scientific publications: journals, proceedings, and technical reports from the Geological Agency, PVMBG (Center for Volcanology and Geological Hazard Mitigation), and research institutions.
- Thematic maps: regional geology maps, geomorphology maps, active fault maps, and landslide hazard maps.
- Historical data: records of past landslide events in the study area, particularly the Pasirlangu landslide of 2026.
- Climatological data: extreme rainfall records from BMKG as direct disaster triggers.
The literature review focuses on reconstructing the geodynamic evolution of the Sunda Complex, the volcanostratigraphic chronology of Burangrang, volcanic soil mineralogy, and soil mechanics parameters.
2. Geodynamic and Volcanostratigraphic Analysis
Burangrang’s formation and evolution are analyzed qualitatively using conceptual models from literature.
- Evolution Analysis: reconstructing Burangrang’s development after the collapse of the Ancient Sunda Caldera, based on volcanic sequences and relative age estimates.
- Fault Interaction Analysis: examining the influence of the Lembang Fault on rock mass stability through fracture distribution, fault branching, and its relation to slope weakness zones.
3. Material and Soil Characteristics Analysis
This stage synthesizes secondary data from previous reports and publications.
- Material Transformation: identifying chemical and physical weathering processes that altered primary volcanic rocks (andesite, tuff) into soil, emphasizing secondary clay mineral formation (kaolinite, smectite).
- Soil Characterization: analyzing technical properties of volcanic soils (Andosols, Latosols) relevant to slope stability, such as porosity, permeability, shear strength, and swelling potential due to expansive clay minerals.
4. Soil Fluid Mechanics and Slope Stability Analysis
Analytical approaches are used to understand slope failure mechanisms.
- Pore Water Pressure Concept: applying Terzaghi’s soil mechanics principles to explain the relationship between rainfall infiltration, pore water pressure increase (u), reduction of effective stress (σ′), and decrease in soil shear strength (τ).
- Conceptual Slope Model: constructing a simple soil layer model (e.g., porous layer over impermeable clay) to explain water saturation and slip surface formation.
- Trigger Analysis: correlating extreme rainfall data with soil saturation and slope gradient to explain landslide initiation.
5. Landslide and Debris Flow Reconstruction
The Pasirlangu 2026 disaster is analyzed retrospectively.
- Chronological Reconstruction: tracing event stages from landslide initiation (crown), transformation into flow, to deposition zones.
- Disaster Parameter Analysis: compiling and analyzing technical data such as material volume, runout length, source slope gradient, and rainfall intensity to understand disaster scale and dynamics.
6. Mitigation and Strategy Evaluation
The final stage synthesizes recommendations.
- Existing Mitigation Evaluation: assessing vegetation effectiveness as natural mitigation by analyzing root cohesion and its depth limitations against deep-seated landslides.
- Conceptual Spatial Analysis: proposing microzonation based on geomorphological parameters (steep slopes >35°, flow valleys, proximity to faults) and geological soil conditions (weathered layer thickness) to identify hazard-prone areas.
- Integrated Mitigation System Design: formulating strategic recommendations combining technical aspects (rainfall-threshold early warning systems), spatial planning (protected zones, relocation), and social aspects (community training).
7. Integration and Synthesis
All findings from each analysis are integrated to build a comprehensive narrative of cause-and-effect relationships from ancient geological evolution to present-day hazard manifestations. This synthesis forms the basis for scientifically grounded and contextual conclusions and recommendations.
results
Analisis integratif terhadap Kompleks Gunung Burangrang menghasilkan gambaran komprehensif tentang hubungan kausal antara evolusi geodinamika purba, transformasi material, dan kerentanan masa kininya. Hasil kajian dapat dirangkum sebagai berikut:
- Evolusi Geodinamika dan Konteks Vulkanostratigrafi Gunung Burangrang merupakan produk dari fase akhir evolusi Kompleks Vulkanik Sunda Purba. Analisis kronostratigrafi mengonfirmasi urutan pembentukan berikut:
Fase Pembangunan Awal (Pasca-Kaldera Sunda): Burangrang mulai terbentuk sebagai bagian dari dinding atau anak gunung dari sistem Sunda, setelah fase kataklismik runtuhnya Gunung Sunda Purba yang membentuk kaldera raksasa sekitar 105.000 tahun lalu.
Fase Akumulasi Material: Tubuh gunung dibangun secara berlapis melalui akumulasi material piroklastik masif (breksi vulkanik, tufa) dan aliran lava andesit-basaltik dari erupsi periodik antara 50.000 hingga 35.000 tahun lalu.
Fase Kepunahan dan Degradasi: Sejak aktivitas vulkanik bergeser ke Tangkuban Parahu (±10.000 tahun terakhir), Burangrang memasuki fase "punah" (extinct) yang didominasi oleh proses pelapukan dan erosi intensif, menghasilkan morfologi kerucut yang tidak simetris dengan lereng terdiseksi dalam.
- Interaksi dengan Sesar Lembang dan Pembentukan Zona Lemah Analisis struktur geologi menunjukkan interaksi kritis antara tubuh vulkanik Burangrang dengan Sesar Lembang Aktif.
Pola Percabangan: Di sisi barat, dekat kaki Burangrang (daerah Muril), Sesar Lembang menunjukkan pola percabangan (branching) dengan sebaran rekahan dan patahan kecil yang ekstensif.
Zona Deformasi: Pola ini mengindikasikan adanya zona deformasi yang kompleks yang telah memperlemah kohesi massa batuan vulkanik. Rekahan-rekahan ini berfungsi sebagai jalur preferensial untuk infiltrasi air dan potensi bidang gelincir.
- Transformasi Material Vulkanik dan Karakterisasi Tanah Proses pelapukan kimiawi intensif selama puluhan ribu tahun telah mentransformasi material vulkanik primer.
Mineralogi Lempung Kritis: Analisis mineralogi menunjukkan terbentuknya mineral lempung sekunder, dengan kehadiran smektit/montmorillonit yang bersifat sangat ekspansif sebagai faktor kunci ketidakstabilan. Mineral ini mampu menyerap air, mengembang, dan menurunkan kuat geser tanah secara drastis saat jenuh.
Profil Tanah Berlapis: Terbentuk profil tanah "sandwich" yang rentan:
Lapisan Atas: Andosol muda, porous, dengan infiltrasi tinggi.
Lapisan Bawah: Lapisan lempung (Latosol) yang kaya smektit, relatif kedap air.
Kontras Permeabilitas: Perbedaan sifat hidraulik yang tajam antara lapisan ini menciptakan zona akumulasi air (perched water table) dan peningkatan tekanan air pori di bidang kontak.
- Dinamika Hidro-geoteknik dan Mekanisme Pemicu Longsor Sintesis parameter geoteknik dan hidrologi mengungkap mekanisme pemicu kegagalan lereng.
Model Konseptual Stabilitas: Diterapkan prinsip tegangan efektif Terzaghi ( τ
c ′ + ( σ − u ) tan ϕ ′ τ=c ′ +(σ−u)tanϕ ′ ). Curah hujan ekstrem menyebabkan infiltrasi masif, penjenuhan lapisan atas, dan peningkatan tekanan air pori ( u u) di atas bidang kedap.
Penurunan Kuat Geser: Peningkatan u u menyebabkan penurunan tegangan efektif ( σ ′ σ ′ ), yang secara langsung mengurangi kuat geser tanah ( τ τ), hingga melampaui batas keseimbangan pada lereng curam.
Ambang Pemicu: Data kejadian Pasirlangu 2026 mengkonfirmasi bahwa curah hujan >220 mm/hari (volume setara >2,15 miliar liter air di daerah tangkapan) merupakan ambang (threshold) kritis yang memicu kejenuhan total sistem lereng.
- Rekonstruksi Bencana Longsor-Aliran Rombakan (Debris Flow) Pasirlangu 2026 Studi kasus menunjukkan manifestasi nyata dari seluruh parameter yang dianalisis.
Mekanisme Multi-tahap: Bencana berkembang dari longsor translasional di mahkota lereng curam (>35°–55°) menjadi aliran debris yang sangat cepat dan merusak.
Parameter Dinamika: Aliran material menempuh jarak ~3,7 km dalam waktu hanya 20-25 menit, menunjukkan kecepatan tinggi dan energi besar. Limpasan (overflow) dari alur sungai terjadi karena volume material melebihi kapasitas saluran.
Kontrol Geologi: Lokasi inisiasi longsor berkorelasi dengan zona rekahan dari sistem patahan berarah barat laut-tenggara, memperkuat tesis bahwa struktur geologi lokal mempercepat kegagalan massa.
- Efektivitas dan Batasan Mitigasi Alamiah oleh Vegetasi Analisis peran vegetasi memberikan hasil yang nuansa.
Manfaat Terbatas: Akar pohon memberikan kohesi tambahan (root cohesion) yang signifikan (hingga ~20 kPa) untuk lapisan tanah dangkal (kedalaman <1,5 m).
Batas Kedalaman: Pada kasus Burangrang, bidang gelincir bersifat dalam (deep-seated landslide), seringkali lebih dari 5-10 m, di luar jangkauan efektif sistem perakaran.
Beban dan Intersepsi: Vegetasi yang terlalu rapat dapat meningkatkan beban di lereng, dan kapasitas intersepsi tajuk terlampaui pada curah hujan ekstrem, sehingga tidak mencegah penjenuhan tanah.
Dampak Fragmentasi Hutan: Analisis temporal menunjukkan deforestasi dan fragmentasi hutan di lereng selatan (1995-2010) meningkatkan kerentanan jangka panjang dengan mengganggu sistem hidrologi alami.
- Zonasi Kerawanan dan Parameter Kunci Berdasarkan sintesis, diidentifikasi parameter kunci untuk zonasi kerawanan tinggi di kawasan Burangrang:
Morfo-metrik: Lereng dengan kemiringan >35°.
Geologi Material: Kawasan dengan lapisan tanah pelapukan vulkanik tebal (>5 m) yang mengandung mineral lempung ekspansif.
Struktur Geologi: Zona yang dipengaruhi oleh percabangan dan rekahan dari Sesar Lembang.
Hidrologi: Lembah sungai atau alur yang berfungsi sebagai jalur konsentrasi aliran permukaan dan debris.
Tata Guna Lahan: Area dengan tutupan vegetasi terfragmentasi atau alih fungsi lahan di lereng curam.
Hasil ini membangun kerangka sebab-akibat yang solid: sejarah vulkanisme purba → pelapukan membentuk material rentan → struktur sesar melemahkan massa → hujan ekstrem memicu peningkatan tekanan air pori → terjadilah kegagalan lereng berskala besar berupa longsor dan aliran debris.
The integrative analysis of the Burangrang Mountain Complex provides a comprehensive picture of the causal relationships between ancient geodynamic evolution, material transformation, and present-day vulnerability. The findings can be summarized as follows:
1. Geodynamic Evolution and Volcanostratigraphic Context
Mount Burangrang is the product of the final stage of the Ancient Sunda Volcanic Complex. Chronostratigraphic analysis confirms the following sequence:
- Initial Construction Phase (Post-Sunda Caldera Collapse): Burangrang began forming as part of the caldera wall or parasitic cone after the cataclysmic collapse of Ancient Sunda Volcano around 105,000 years ago.
- Material Accumulation Phase: The mountain body was built through layered deposition of massive pyroclastic material (volcanic breccia, tuff) and andesitic-basaltic lava flows from periodic eruptions between 50,000–35,000 years ago.
- Extinction and Degradation Phase: Since volcanic activity shifted to Tangkuban Parahu (~10,000 years ago), Burangrang entered an extinct stage dominated by weathering and erosion, producing an asymmetrical cone dissected by deep valleys.
2. Interaction with the Lembang Fault and Weak Zone Formation
Geological structure analysis highlights critical interaction between Burangrang and the active Lembang Fault.
- Branching Pattern: Near Muril on the western foot, the fault exhibits branching with extensive fractures and minor faults.
- Deformation Zone: This complex deformation weakens volcanic rock cohesion, creating preferential pathways for water infiltration and potential slip surfaces.
3. Volcanic Material Transformation and Soil Characterization
Intensive chemical weathering over tens of thousands of years transformed primary volcanic material.
- Critical Clay Mineralogy: Secondary clay minerals formed, notably smectite/montmorillonite, which are highly expansive and reduce shear strength when saturated.
- Layered Soil Profile: A “sandwich” profile developed: porous young Andosol above impermeable smectite-rich clay (Latosol).
- Hydraulic Contrast: Sharp permeability differences create perched water tables and pore pressure buildup at layer contacts.
4. Hydro-Geotechnical Dynamics and Landslide Triggers
Geotechnical and hydrological synthesis reveals slope failure mechanisms.
- Conceptual Stability Model: Terzaghi’s effective stress principle ((\tau = c' + (\sigma - u)\tan\phi')) explains how extreme rainfall infiltration raises pore water pressure (u), reduces effective stress ((\sigma')), and lowers shear strength ((\tau)).
- Trigger Threshold: The Pasirlangu 2026 event confirmed rainfall >220 mm/day as the critical threshold for total slope saturation.
5. Landslide–Debris Flow Reconstruction (Pasirlangu 2026)
The case study demonstrates real-world manifestation of these parameters.
- Multi-stage Mechanism: Translational landslide at steep slopes (>35°–55°) evolved into a fast, destructive debris flow.
- Dynamic Parameters: Material traveled ~3.7 km in 20–25 minutes, exceeding river channel capacity.
- Geological Control: Initiation zones correlated with NW–SE fault fractures, reinforcing structural influence on failure.
6. Effectiveness and Limitations of Vegetation Mitigation
Vegetation plays a nuanced role.
- Limited Benefits: Roots add cohesion (~20 kPa) in shallow soils (<1.5 m).
- Depth Limitation: Deep-seated slip surfaces (>5–10 m) lie beyond root influence.
- Forest Fragmentation: Deforestation (1995–2010) increased long-term vulnerability by disrupting natural hydrology.
7. Hazard Zonation and Key Parameters
High-risk zones are defined by:
- Slopes >35°.
- Thick (>5 m) weathered volcanic soils with expansive clays.
- Fault-related fracture zones.
- Valleys and channels concentrating runoff and debris.
- Fragmented vegetation or land-use changes on steep slopes.
Causal Framework: Ancient volcanism → weathering produces vulnerable material → fault structures weaken rock mass → extreme rainfall raises pore pressure → large-scale slope failure as landslides and debris flows.
Would you like me to refine this into a scientific abstract-style summary (around 250 words) so it can be used directly in a journal or conference paper?
discussion
Hasil analisis ini menegaskan bahwa bencana gerakan tanah di kawasan Gunung Burangrang bukanlah peristiwa acak, melainkan konsekuensi logis dari interaksi kompleks antara sejarah geologi purba, sifat material, dan faktor pemicu modern. Diskusi ini akan mengelaborasi implikasi dari temuan tersebut serta menyoroti aspek-aspek kritis untuk mitigasi.
-
Paradigma "Gunung Api Tua" sebagai Entitas yang Rentan Temuan penelitian ini mendorong perlunya pergeseran paradigma dalam manajemen risiko bencana. Selama ini, perhatian utama tertuju pada gunung api aktif. Namun, hasil kajian menunjukkan bahwa gunung api tua yang telah padam, seperti Burangrang, justru menyimpan bahaya laten yang signifikan. Bahaya ini bersifat "diam" (creeping hazard), terakumulasi secara perlahan melalui proses pelapukan selama ribuan tahun. Sistem lereng berada dalam kondisi metastabil, di mana keseimbangannya sangat bergantung pada parameter hidrologi. Oleh karena itu, pendekatan mitigasi di wilayah semacam ini harus bergeser dari responsif terhadap erupsi menjadi proaktif terhadap ancaman hidrometeorologi dan degradasi lahan jangka panjang.
-
Dominasi Pelapukan Kimiawi dan Peran Krusial Mineral Lempung Ekspansif Diskusi mengenai stabilitas lereng vulkanik seringkali hanya berfokus pada sifat fisik tanah seperti sudut geser dalam. Hasil kajian ini mengangkat aspek kritis yang sering diabaikan: peran dominan pelapukan kimiawi dan mineralogi lempung. Transformasi mineral primer (felspar, piroksen) menjadi mineral lempung sekunder, khususnya smektit, merupakan game-changer dalam mekanika tanah. Kemampuan smektit mengembang saat basah dan menyusut saat kering menciptakan siklus kelemahan dan retakan mikro di dalam massa tanah. Ini menjelaskan mengapa lereng yang tampak kokoh secara visual dapat mengalami kegagalan mendadak. Implikasinya, pemetaan kerawanan tidak cukup hanya berdasarkan kemiringan lereng; diperlukan pemetaan sebaran mineral lempung ekspansif dan ketebalan zona pelapukan sebagai data dasar.
-
Sesar Lembang: Bukan Hanya Sumber Gempa, Tetapi Pengontrol Stabilitas Lereng Diskusi tentang Sesar Lembang umumnya terbatas pada potensinya sebagai sumber gempa bumi. Temuan ini mengungkap peran lain yang sama pentingnya: sebagai agen pembentuk zona lemah makroskopik. Percabangan dan rekahan intensif di sekitar Burangrang berfungsi sebagai:
Jaringan drainase bawah permukaan yang mempercepat distribusi air hujan ke dalam tubuh lereng.
Bidang diskontinuitas potensial yang dapat berkembang menjadi bidang gelincir. Hal ini menunjukkan bahwa mitigasi longsor di kawasan ini harus terintegrasi dengan peta mikrozonasi bahaya sesar, di mana zona buffer tidak hanya untuk gempa tetapi juga untuk gerakan tanah.
- Ambang Curah Hujan Kritis: Dari Data Statistik Menuju Model Fisis Data curah hujan ekstrem >220 mm/hari pada kejadian Pasirlangu 2026 memberikan titik kuantitatif yang berharga. Namun, ambang ini tidak boleh dilihat sebagai angka universal. Diskusi perlu mengarah pada pengembangan ambang dinamis (rainfall threshold) yang spesifik lokasi. Ambang ini harus memperhitungkan:
Kelembaban tanah awal (antecedent rainfall) yang menentukan kapasitas jenuh lereng.
Karakteristik hidraulik tanah setempat (porositas, permeabilitas).
Kemiringan dan morfologi lereng. Integrasi data hujan real-time dengan pemodelan infiltrasi-transien seperti TRIGRS dapat memberikan peringatan yang lebih akurat dibandingkan hanya mengandalkan ambang statistik regional.
- Mitigasi Berbasis Vegetasi: Antara Harapan dan Realita Temuan mengenai keterbatasan vegetasi dalam menahan longsor dalam memberikan perspektif yang realistis. Diskusi ini menepis anggapan umum bahwa "penghijauan" adalah solusi tunggal untuk longsor. Vegetasi efektif sebagai mitigasi untuk longsor dangkal (shallow landslide) dan erosi permukaan, tetapi bukan "obat" untuk kegagalan lereng skala besar yang dipicu oleh proses geologi dalam dan hidrologi. Oleh karena itu, strategi penanaman harus:
Selektif: Memilih spesies berakar dalam dan kuat (sistem akar tunggang).
Strategis: Ditempatkan di area tertentu untuk mengendalikan erosi permukaan dan limpasan.
Dipadukan: Vegetasi harus menjadi bagian dari sistem mitigasi terpadu yang mencakup rekayasa teknis (drainase lereng) dan tata ruang.
-
Integrasi Ilmu Kebumian untuk Tata Ruang yang Adaptif Pelajaran utama dari kajian ini adalah kegagalan tata ruang yang tidak mempertimbangkan evolusi geologi jangka panjang. Lahan di kaki lereng curam dan di jalur aliran debris sejarah, seperti Pasirlangu, telah dijadikan permukiman. Diskusi harus mengarah pada penegakan berbasis sains dalam tata ruang. Zona-zona berisiko tinggi (lereng >35°, jalur sesar/rekahan, lembah aliran purba) harus secara tegas dikembalikan sebagai kawasan lindung geologi (geo-heritage and conservation zone). Konsep "memberi ruang untuk alam" (giving room to the river/landslide) dengan menetapkan koridor bahaya (hazard corridor) yang bebas dari bangunan permanen harus menjadi paradigma utama.
-
Membangun Memori Kolektif dari Sejarah Geologi dan Bencana Legenda Sangkuriang yang terkait dengan Burangrang dapat ditafsirkan sebagai memori kolektif masyarakat terhadap peristiwa geologi besar di masa lalu, seperti gempa kuat dari Sesar Lembang atau longsor purba. Diskusi perlu mengangkat pentingnya mentranslasikan pengetahuan ilmiah modern menjadi narasi yang mudah dipahami masyarakat, menghubungkan antara legenda, tanda-tanda alam (retakan tanah, mata air keruh), dan mekanisme geologi. Edukasi kebencanaan berbasis kearifan lokal dan sains ini dapat membangun kewaspadaan yang lebih organik dan berkelanjutan.
Kesimpulannya, diskusi ini menempatkan Gunung Burangrang sebagai laboratorium alam yang memperlihatkan bagaimana dinamika bumi dari masa lalu membentuk risiko di masa kini. Mitigasi yang efektif harus lahir dari pemahaman mendalam tentang dialog antara batuan, air, dan struktur bumi, serta keberanian untuk menata ruang hidup yang selaras dengan ritme alam yang telah berlangsung jauh lebih lama daripada peradaban manusia.
The discussion of this analysis emphasizes that landslides in the Burangrang Mountain area are not random events but logical consequences of long-term interactions between ancient geology, material properties, and modern triggers. Several key points emerge:
-
Old Volcano Paradigm
Extinct volcanoes still harbor latent hazards. Burangrang exemplifies how thousands of years of weathering create metastable slopes highly dependent on hydrological conditions. Mitigation must shift from eruption-focused to proactive management of hydrometeorological threats and land degradation. -
Role of Expansive Clay Minerals
Smectite and montmorillonite are critical instability factors. Their ability to swell when wet and shrink when dry produces cycles of internal weakness. Hazard mapping must include clay mineral distribution and weathering zone thickness, not just slope angle. -
Lembang Fault as a Stability Controller
Beyond being an earthquake source, the fault generates weak zones that accelerate water infiltration and provide potential slip surfaces. Landslide mitigation must integrate microzonation maps of fault hazards, not only seismic risks. -
Critical Rainfall Thresholds
Data from Pasirlangu 2026 (>220 mm/day) provide a quantitative benchmark, but thresholds must be dynamic and site-specific. Real-time rainfall data integrated with transient infiltration modeling (e.g., TRIGRS) yield more accurate warnings than static statistical values. -
Vegetation: Hope and Reality
Vegetation is effective for shallow landslides but insufficient for deep-seated failures. Strategies must be selective (deep-rooted species), strategic (erosion-prone areas), and combined with engineering and spatial planning. -
Adaptive Land Use Planning
Settlements in debris flow paths, such as Pasirlangu, reflect spatial planning failures. High-risk zones must be restored as geological conservation areas. Hazard corridors free of permanent structures should be enforced. -
Collective Memory and Education
The Sangkuriang legend may represent collective memory of major geological events. Linking local narratives with modern science strengthens community awareness organically.
Conclusion: Burangrang is a natural laboratory showing how ancient earth dynamics shape present-day risks. Effective mitigation must arise from deep understanding of the dialogue between rock, water, and earth structures, alongside the courage to align human settlement with nature’s rhythms.
conclusion
Berdasarkan analisis integratif terhadap aspek geodinamika, transformasi material, mekanika fluida tanah, dan studi kasus bencana, dapat disimpulkan bahwa kerentanan kawasan Gunung Burangrang terhadap bencana gerakan tanah merupakan produk akhir dari suatu rangkaian proses geologi yang panjang dan kompleks.
Pertama, Gunung Burangrang merupakan fase akhir evolusi dari Kompleks Vulkanik Sunda Purba. Tubuhnya yang terbentuk dari akumulasi material piroklastik dan lava antara 105.000 hingga 35.000 tahun yang lalu, kini telah memasuki tahap degradasi intensif pasca-kepunahan. Proses pelapukan kimiawi selama puluhan ribu tahun telah mentransformasi batuan vulkanik primer menjadi tanah vulkanik yang kaya akan mineral lempung ekspansif, khususnya smektit. Mineral inilah yang menjadi faktor kritis penurunan kekuatan geser tanah saat jenuh air.
Kedua, stabilitas lereng tidak hanya ditentukan oleh materialnya, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh struktur geologi. Interaksi dengan Sesar Lembang menciptakan zona percabangan dan rekahan yang luas di sekitar kaki Burangrang, yang berfungsi sebagai zona lemah struktural dan jalur preferensial untuk infiltrasi air, semakin mempercepat proses degradasi dan potensi kegagalan massa batuan.
Ketiga, mekanisme pemicu bencana bersifat hidro-geoteknik. Model konseptual berdasarkan prinsip tegangan efektif Terzaghi menjelaskan dengan jelas bagaimana curah hujan ekstrem (seperti >220 mm/hari) bertindak sebagai trigger akhir. Air hujan yang berinfiltrasi ke lapisan tanah porous (Andosol) akan terakumulasi di atas lapisan lempung kedap, menyebabkan peningkatan tekanan air pori yang drastis. Peningkatan ini mengurangi tegangan efektif penahan, hingga kuat geser tanah turun di bawah tegangan geser gravitasi pada lereng curam (>35°), dan terjadilah kegagalan lereng.
Keempat, studi kasus Longsor Pasirlangu 2026 merupakan manifestasi sempurna dari seluruh mekanisme tersebut. Bencana ini berevolusi dari longsor translasional di mahkota lereng menjadi aliran debris (debris flow) yang cepat dan merusak, menempuh jarak 3,7 km dalam waktu singkat (±25 menit). Peristiwa ini membuktikan bahwa ancaman di kawasan gunung api tua bukan sekadar longsor lokal, melainkan aliran material skala besar yang mengikuti jalur-jalur morfologi purba.
Kelima, upaya mitigasi konvensional seperti penghijauan memiliki batasan efektivitas yang mendasar. Sistem perakaran vegetasi umumnya hanya efektif menahan longsor dangkal (kedalaman <1,5-2 m), sementara bidang gelincir di Burangrang sering kali bersifat dalam (deep-seated). Oleh karena itu, vegetasi harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi terpadu, bukan solusi tunggal.
Secara holistik, penelitian ini mengungkap bahwa bencana di kawasan seperti Burangrang adalah titik pertemuan antara "Waktu Geologi" (proses pembentukan dan pelapukan purba) dengan "Iklim Masa Kini" (kejadian cuaca ekstrem). Oleh karena itu, mitigasi yang berkelanjutan harus didasarkan pada pemahaman mendalam tentang warisan geologi ini dan diwujudkan dalam tiga pilar utama: (1) Tata Ruang yang Tegas dengan melarang permukiman di zona bahaya tinggi (lereng sangat curam, jalur aliran debris, zona rekahan sesar), (2) Sistem Peringatan Dini Berbasis Risiko yang mengintegrasikan ambang hujan spesifik lokasi dengan pemantauan tanda-tanda gerakan tanah, dan (3) Pembangunan Kesadaran Publik bahwa ketenangan lanskap gunung api tua adalah kondisi yang rapuh, yang mengharuskan kewaspadaan dan adaptasi terus-menerus terhadap dinamika alam.
Based on the integrative analysis of geodynamics, material transformation, soil fluid mechanics, and disaster case studies, it can be concluded that the vulnerability of the Burangrang Mountain area to landslides is the final product of a long and complex geological process.
First, Mount Burangrang represents the final stage in the evolution of the Ancient Sunda Volcanic Complex. Its body, formed from pyroclastic and lava deposits between 105,000 and 35,000 years ago, has now entered an intensive degradation phase following extinction. Chemical weathering over tens of thousands of years has transformed primary volcanic rocks into volcanic soils rich in expansive clay minerals, particularly smectite. This mineral is a critical factor in reducing soil shear strength when saturated.
Second, slope stability is not only determined by material properties but is also strongly influenced by geological structures. Interaction with the Lembang Fault has created branching zones and extensive fractures around Burangrang’s foothills, functioning as structural weak zones and preferential pathways for water infiltration, accelerating degradation and mass failure potential.
Third, disaster triggers are hydro-geotechnical in nature. Conceptual models based on Terzaghi’s effective stress principle clearly explain how extreme rainfall (e.g., >220 mm/day) acts as the final trigger. Rain infiltrating porous Andosol soils accumulates above impermeable clay layers, drastically increasing pore water pressure. This reduces effective stress, lowering shear strength below gravitational shear stress on steep slopes (>35°), leading to slope failure.
Fourth, the Pasirlangu Landslide of 2026 is a perfect manifestation of these mechanisms. The disaster evolved from a translational landslide at the crown of a steep slope into a fast, destructive debris flow, traveling 3.7 km in about 25 minutes. This event proves that threats in old volcanic regions are not merely local landslides but large-scale material flows following ancient morphological pathways.
Fifth, conventional mitigation efforts such as reforestation have fundamental limitations. Root systems are generally effective only for shallow landslides (<1.5–2 m), while Burangrang’s slip surfaces are often deep-seated. Vegetation must therefore be part of an integrated strategy, not a standalone solution.
Holistically, this study reveals that disasters in areas like Burangrang are the intersection of “Geological Time” (ancient formation and weathering processes) and “Present Climate” (extreme weather events). Sustainable mitigation must be grounded in deep geological understanding and realized through three main pillars:
- Strict Spatial Planning – prohibiting settlements in high-risk zones (steep slopes, debris flow paths, fault fracture zones).
- Risk-Based Early Warning Systems – integrating site-specific rainfall thresholds with monitoring of ground movement indicators.
- Public Awareness Building – fostering understanding that the calm landscape of old volcanoes is fragile, requiring continuous vigilance and adaptation to natural dynamics.
references
Bronto, S., & Mulyaningsih, S. (2007). Geomorphologic development of the Sunda volcanic complex, West Java, Indonesia. Indonesian Journal of Geology, 2(4), 217-228.
Dam, M. A. C., Suparan, P., & Nossin, J. J. (2002). Late Quaternary evolution of the Bandung Basin, West Java, Indonesia. In Proceedings of the Indonesian Sedimentologists Forum (pp. 99-115).
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). (2026). Laporan Investigasi Bencana Longsor Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Badan Geologi. (2026). Kajian Penyebab Longsor Besar di Pasirlangu, Cisarua. Siaran Pers, 1 Februari 2026.
Daryono, D., & Natawidjaja, D. H. (2016). Aplikasi Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh untuk Zonasi Kerawanan Bencana Gempa Bumi Sesar Lembang. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, 17(2), 75-85.
Koulali, A., Susilo, S., McClusky, S., Meilano, I., Cummins, P., Tregoning, P., ... & Efendi, J. (2016). Crustal strain partitioning and the associated earthquake hazard in the eastern Sunda-Banda Arc. Geophysical Research Letters, 43(5), 1943-1949.
Hardiyatmo, H. C. (2006). Mekanika Tanah 1 (Edisi Kelima). Gadjah Mada University Press.
Mitchell, J. K., & Soga, K. (2005). Fundamentals of Soil Behavior (3rd ed.). John Wiley & Sons.
Sudrajat, A., & Mulyanto, B. (2008). Karakteristik Tanah Andosol, Latosol, dan Podsolik serta Pengelolaannya untuk Pertanian. Jurnal Tanah dan Iklim, (28), 1-15.
Terzaghi, K., Peck, R. B., & Mesri, G. (1996). Soil Mechanics in Engineering Practice (3rd ed.). John Wiley & Sons.
Iverson, R. M. (2000). Landslide triggering by rain infiltration. Water Resources Research, 36(7), 1897-1910.
Baum, R. L., Godt, J. W., & Savage, W. Z. (2010). Estimating the timing and location of shallow rainfall-induced landslides using a model for transient, unsaturated infiltration. Journal of Geophysical Research: Earth Surface, 115(F3).
Sidle, R. C., & Ochiai, H. (2006). Landslides: Processes, Prediction, and Land Use. American Geophysical Union.
Stokes, A., Atger, C., Bengough, A. G., Fourcaud, T., & Sidle, R. C. (2009). Desirable plant root traits for protecting natural and engineered slopes against landslides. Plant and Soil, 324(1-2), 1-30.
BMKG. (2026). Analisis Curah Hujan Ekstrem di Jawa Barat Periode 23-25 Januari 2026. Pusat Database Iklim Ekstrem.
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. (2020). Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bandung Barat 2020-2040.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Perka BNPB) Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana.
Kumparan. (2026, 1 Februari). Evolusi Hutan Selatan Gunung Burangrang dan Kaitannya dengan Longsor Cisarua. Diakses dari https://kumparan.com/roni-marudut-s/evolusi-hutan-selatan-gunung-burangrang-dan-kaitannya-dengan-longsor-cisarua-26j8OeuK9Wc
Kompas.id. (2026, 1 Februari). 1.500 Detik, Antara Hidup dan Mati di Kawasan Rawan Longsor Cisarua.
Bronto, S., & Mulyaningsih, S. (2007). Geomorphologic development of the Sunda volcanic complex, West Java, Indonesia. Indonesian Journal of Geology, 2(4), 217-228.
Dam, M. A. C., Suparan, P., & Nossin, J. J. (2002). Late Quaternary evolution of the Bandung Basin, West Java, Indonesia. In Proceedings of the Indonesian Sedimentologists Forum (pp. 99-115).
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). (2026). Laporan Investigasi Bencana Longsor Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Badan Geologi. (2026). Kajian Penyebab Longsor Besar di Pasirlangu, Cisarua. Siaran Pers, 1 Februari 2026.
Daryono, D., & Natawidjaja, D. H. (2016). Aplikasi Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh untuk Zonasi Kerawanan Bencana Gempa Bumi Sesar Lembang. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, 17(2), 75-85.
Koulali, A., Susilo, S., McClusky, S., Meilano, I., Cummins, P., Tregoning, P., ... & Efendi, J. (2016). Crustal strain partitioning and the associated earthquake hazard in the eastern Sunda-Banda Arc. Geophysical Research Letters, 43(5), 1943-1949.
Hardiyatmo, H. C. (2006). Mekanika Tanah 1 (Edisi Kelima). Gadjah Mada University Press.
Mitchell, J. K., & Soga, K. (2005). Fundamentals of Soil Behavior (3rd ed.). John Wiley & Sons.
Sudrajat, A., & Mulyanto, B. (2008). Karakteristik Tanah Andosol, Latosol, dan Podsolik serta Pengelolaannya untuk Pertanian. Jurnal Tanah dan Iklim, (28), 1-15.
Terzaghi, K., Peck, R. B., & Mesri, G. (1996). Soil Mechanics in Engineering Practice (3rd ed.). John Wiley & Sons.
Iverson, R. M. (2000). Landslide triggering by rain infiltration. Water Resources Research, 36(7), 1897-1910.
Baum, R. L., Godt, J. W., & Savage, W. Z. (2010). Estimating the timing and location of shallow rainfall-induced landslides using a model for transient, unsaturated infiltration. Journal of Geophysical Research: Earth Surface, 115(F3).
Sidle, R. C., & Ochiai, H. (2006). Landslides: Processes, Prediction, and Land Use. American Geophysical Union.
Stokes, A., Atger, C., Bengough, A. G., Fourcaud, T., & Sidle, R. C. (2009). Desirable plant root traits for protecting natural and engineered slopes against landslides. Plant and Soil, 324(1-2), 1-30.
BMKG. (2026). Analisis Curah Hujan Ekstrem di Jawa Barat Periode 23-25 Januari 2026. Pusat Database Iklim Ekstrem.
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. (2020). Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bandung Barat 2020-2040.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Perka BNPB) Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana.
Kumparan. (2026, 1 Februari). Evolusi Hutan Selatan Gunung Burangrang dan Kaitannya dengan Longsor Cisarua. Diakses dari https://kumparan.com/roni-marudut-s/evolusi-hutan-selatan-gunung-burangrang-dan-kaitannya-dengan-longsor-cisarua-26j8OeuK9Wc
Kompas.id. (2026, 1 Februari). 1.500 Detik, Antara Hidup dan Mati di Kawasan Rawan Longsor Cisarua.